Minggu, 28 Maret 2021

 

 Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                            Medan, Maret 2021

 

 MINYAK CENGKEH SEBAGAI PENGHEMAT BAHAN BAKAR MINYAK

 

Dosen Penanggungjawab:

Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si.

 

 Disusun Oleh :

      Winda Ramadhani

   191201081

   HUT 4D

 




PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2021

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Paper  ini dengan baik dan tepat waktu. Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul “Minyak Cengkeh Sebagai Peghemat Bahan Bakar Minyak”  ini ditulis untuk melengkapi tugas Mata Kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, terutama kepada dosen penanggungjawab Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si.  sebagai pembimbing sekaligus informan yang dengan sabar telah meluangkan waktu untuk membimbing dan mengarahkan. Penulis menyadari bahwa paper Ekonomi Sumberdaya Hutan ini masih banyak kesalahan dalam penulisan. Oleh karena itu, penulis akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaikinya.

Penulis juga sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Semoga paper ini bisa memberikan manfaat bagi pembacanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Medan, Maret 2021

 

 

 

Penulis

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

                                                                                                                  Halaman

KATA PENGANTAR......................................................................................... i

DAFTAR ISI....................................................................................................... ii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang........................................................................................... 1

1.2  Rumusan Masalah...................................................................................... 2

1.3  Tujuan........................................................................................................ 2

BAB II

PEMBAHASAN

2.1  Definisi Minyak Cengkeh ........................................................................ 3

2.2  Potensi Minyak Cengkeh sebagai penghemat BBM ................................ 4

2.3  Nilai Ekonomis Minyak Cengkeh ............................................................ 5

BAB III

PENUTUP

3.1  Kesimpulan................................................................................................ 7

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

I.                   Latar Belakang

 

Kebutuhan energi di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini didukung oleh peningkatan jumlah kendaraan seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan jumlah penduduk sehingga secara tidak langsung meningkatkan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Salah satu solusi penghematan BBM adalah dengan menggunakan bahan aditif yang ditambahkan ke dalam BBM. Hal tersebut bertujuan untuk memperkaya kandungan oksigen dalam bahan bakar. Dengan meningkatnya kandungan oksigen dalam bahan bakar maka dapat meningkatkan kinerja pembakaran atau menyempurnakan pembakaran dalam ruang bakar mesin. Hal tersebut menyebabkan tenaga yang dihasilkan menjadi lebih besar, menurunkan emisi gas buang serta volume penggunaan bahan bakar minyak lebih sedikit setiap jarak tempuh atau satuan waktu pemakaian bahan bakar minyak

            Minyak atsiri merupakan produk bahan alam dari keragaman hayati Indonesia yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bioaditif bahan bakar solar. Minyak cengkeh, minyak terpentin, minyak pala, minyak gandapura, minyak sereh dan minyak kayu putih adalah minyak atsiri yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai bioaditif bahan bakar solar karena senyawa-senyawa penyusunnya memiliki rantai siklik dan ketersediaan oksigen yang cukup besar. Di era industrialisasi, bahan bakar minyak mempunyai fungsi yang sangat penting dalam mendukung pengembangan nasional di sektor industri dan transportasi. Di sektor transportasi, fenomena persaingan negara-negara produsen seperti Jepang dan Eropa dalam teknologi transportasi merupakan sebuah pemicu tersendiri bagi peminat transportasi dunia dalam menciptakan kendaraan yang ramah lingkungan. Jepang menawarkan teknologi fuel-cell atau mobil hybrid, sedangkan Eropa memilih teknologi mesin diesel karena hemat bahan bakar, walaupun permasalahan terbesar mesin diesel adalah asap yang hitam masih menjadi tantanga.                         
           Alternatif untuk meningkatkan efisiensi pembakaran bahan bakar dan mengurangi pencemaran adalah mereformulasi bahan bakar dengan zat aditif yang berfungsi untuk memperkaya kandungan oksigen dalam bahan bakar. Song (2001) dan Choi (1999) mengemukakan zat aditif ‘penyedia oksigen’ pada bahan bakar solar berperan untuk meningkatkan bilangan setana (cetane number), sehingga pembakaran menjadi lebih sempurna. Zat aditif terdiri dari dua macam, yaitu aditif sintesis (aditif buatan) dan bioaditif (berasal dari tumbuhan). Telah banyak penelitian dalam melakukan reformulasi bahan bakar ini. Terobosan yang semakin tajam dalam pemilihan aditif pada bahan bakar adalah aditif organik (bioaditif) yang berasal dari tumbuhan alam. Indonesia merupakan produsen utama beberapa minyak esensial, seperti Minyak Nilam (Patchouli Oil), Minyak Akar Wangi (Vertiver Oil), Minyak Sereh Wangi (Cintronella Oil), Minyak kenanga (Cananga Oil), Minyak Kayu Putih (Cajeput Oil), Minyak Sereh Dapur (Lemon Grass), Minyak Cengkeh (Cloves Oil), Minyak Cendana (Sandal wood Oil), Minyak Pala (Nutmeg Oil), Minyak Kayu Manis (Cinamon Oil), Minyak Kemukus (Cubeb Oil) dan Minyak Lada (Pepper Oil).

 

I.                 RUMUSAN MASALAH

1. Apa itu minyak cengkeh

2. Bagaimana potensi minyak cengkeh sebagai penghemat bahan bakar

  3. Bagaimana nilai ekonomis minyak cengkeh sebagai alternatif penghemat

      bahan bakar minyak

 

II.              TUJUAN PENELITIAN

1. Untuk mengetahui definisi minyak cengkeh

2. Untuk mengetahui potensi minyak cengkeh sebagai penghemat bahan

    bakar minyak

3. Untuk mengetahui nilai ekonomis sebagai alternatif penghemat bakar 

     bakar minyak

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1  Apa Itu Minyak Cengkeh

            Tanaman cengkeh (Eugenia caryophyllata) dapat menghasilkan minyak cengkeh melalui proses destilasi uap dari buah ataupun daun cengkeh yang telah gugur. Komponen utama yang terdapat pada minyak cengkeh ini adalah senyawa eugenol sebanyak 80-85% serta karyofilen sebesar 10-15% . Senyawa eugenol yang terdapat pada minyak cengkeh ini mempunyai rumus 5 molekul C10H1202, bobot molekul 164.20 serta titik didih 250-255°C yang dapat larut dalam alkohol, eter, kloroform serta sedikit air. Eugenol dapat berperan untuk memperkaya kandungan oksigen dalam bahan bakar. Sehingga dengan adanya penambahan atom oksigen yang terdapat di dalam bahan bakar, maka atom oksigen ini akan berperan untuk mengoksidasi jelaga dan gas karbon monoksida (CO) dalam ruang bakar sehingga proses pembakaran yang terjadi akan lebih sempurna

             Minyak atsiri dapat dibuat dari berbagai macam jenis tumbuhan melalui proses destilasi atau penyulingan sehingga dapat menghasilkan minyak atsiri. Minyak atsiri dapat digunakan sebagai bio aditif untuk campuran pada bahan bakar. Penggunaan bio aditif dari minyak atsiri dapat meningkatkan kualitas dari bahan bakar tersebut dan dapat mengurangi polusi udara akibat emisi gas buang hasil pembakaran mesin kendaraan. Pada umumnya zat aditif yamg digunakan pada bahan bakar yaitu Tetra Ethyl Lead (TEL) dan Tetra Methyl Lead (TML) mengandung logam berat Pb yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Salah satu minyak atsiri yang dapat digunakan sebagai bio aditif adalah minyak cengkeh. Minyak cengkeh didapat dari proses destilasi atau penyulingan daun cengkeh, bunga dan batang bunga cengkeh.
            Melimpahnya tanaman cengkeh di Negara Indonesia sehingga dapat diolah menjadi minyak cengkeh. Minyak cengkeh termasuk dalam golongan minyak atsiri. Kandungan utama pada minyak cengkeh adalah eugenol sekitar 80%. Bagian dari tanaman cengkeh yang dapat disuling menjadi minyak antara lain, daun, bunga dam tangkai bunga cengkeh. Sifat dari minyak cengkeh yang dapat larut pada bahan bakar, dapat menjadikan minyak cengkeh sebagai bio aditif bahan bakar yang berguna untuk meningkatkan kualitas bahan bakar dan pembakaran.
 

2.2 Potensi minyak Cengkeh Sebagai Penghemat Bahan Bakar Minyak

Peningkatkan ketahanan energi nasional dan pengurangan konsumsi energi bahan bakar minyak telah diusahakan pemerintah maupun berbagai elemen masyarakat. Baik pemerintah, pelaku bisnis/industri, organisasi masyarakat sipil, dan individu telah melakukan gerakan atau aksi bersama untuk melakukan penghematan energi. Pemerintah melalui keputusan instruksi presiden, memerintahkan untuk melakukan penghematan energi dan air, melaksanakan program konservasi energi dan gerakan pemotongan penggunaan energi 10%. Sementara itu pelaku industri dan masyarakat melakukan kajian dan mengembangkan berbagai teknologi penghematan energi. Salah satu teknologi yang telah dikembangkan adalah teknologi aditif penghemat bahan bakar yang dikembangkan dari turunan minyak atsiri.

Menggunakan minyak atsiri sebagai bioaditif pada bahan bakar minyak (BBM) untuk meningkatkan efisiensi proses pembakaran bahan bakar minyak guna mencapai penghematan pemakaian BBM (bensin dan solar). Hasil pengujian menunjukkan pada pengujian formula aditif bensin mengalami kenaikan angka oktan sebesar 0.4. Hasil pengujian aditif solar juga cukup baik. Peningkatan angka cetana pada aditif solar sebesar 2.9. Selain itu, pada pengujian lapangan (uji jalan) menunjukkan tingkat penghematan bensin maupun solar rata-rata sebesar 20 sampai 40%.

            Menurut Hadi (2012) minyak cengkeh didapat dari proses penyulingan/destilasi dari bungai, tangkai atau gagang bunga dan daun cengkeh. Minyak cengkeh termasuk dalam jenis minyak atsiri, dan kandungan minyak atsiri pada minyak cengkeh mencapai 21,3%. Kandungan terbesar pada minyak cengkeh adalah eugenol yang mencapai 78-85%. Eugenol dapat bermanfaat dalam pembuatan vanilin, euginil metil eter, eugenil asetat dan lain-lain.  Eugenol merupakan kandungan utama pada minyak cengkeh. Eugenol dan senyawa-senyawa lainnya mempunyai macammacammanfaat pada industri, seperti industri nabati, farmasi, kosmetik dll. Turunan senyawa eugenol yaitu eugenol asetat dapat digunakan sebagai bioaditif bahan bakar solar yang dapat meningkatkan kualitas pembakaran bahan bakar.

            Minyak atsiri dapat larut atau bercampur dengan solar. Dari hasil analisis, komponen penyusun minyak atsiri mengandung atom oksigen yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas bahan bakar sehingga pembakaran bahan bakar pada mesin dapat menjadi lebih sempurna Minyak cengkeh diperoleh dengan cara destilasi uap dari buah atau daun cengkeh yang telah gugur. Buah cengkeh yang kering mengandung sekitar 18,32% minyak atsiri dengan kandungan eugenol sebesar 80,94%. Sedangkan daun cengkeh mengandung sekitar 2,97% minyak atsiri dengan kandungan eugenol sebesar 82,13%. Minyak cengkeh hasil destilasi uap berwarna coklat gelap, tetapi setelah didestilasi ulang akan diperoleh cairan berwarna kekuningan jernih dengan indeks bias pada 20°C = 1,530, massa jenis pada 30°C = 0,9994.
            Minyak cengkeh memiliki tingkat kelarutan yang tinggi pada solar. Tingginya tingkat kelaruran ini dapat mengurangi kekakuan struktur bahan bakar dengan cara menurunkan kekuatan ikatan antar molekul penyusun bahan bakar solar, sehingga dapat meningkatkan reaktifitas pembakaran bahan bakar. Cengkeh juga dapat berperan sebagai “penyedia oksigen” secara internal sehingga pembakaran menjadi lebih sempurna, serta atom oksigen dalam bahan bakar dapat mengoksidasi jelaga dan gas karbon monoksida (CO) sehingga pembakaran menjadi lebih sempurna.  
 

2.3   Nilai Ekonomis Minyak Cengkeh Sebagai Alternatif Penghemat BBM

Minyak cengkih merupakan salah satu minyak atsiri yang permintaannya cukup tinggi di pasar internasional. Minyak cengkih dihasilkan dari distilasi uap (penyulingan) bunga, tangkai, dan daun cengkih. Spesifikasi minyak cengkih tidak hanya ditentukan oleh kandungan eugenolnya, tetapi juga komponen lain seperti eugenol asetat dan kariofilen. Cengkih merupakan tanaman rempah asli Maluku Utara/Kepulauan Maluku (Rukka 2010), dan telah diperdagangkan serta dibudidayakan secara turun-temurun dalam bentuk perkebunan rakyat. Penyebaran tanaman cengkih keluar Kepulauan Maluku dimulai sejak 1769, sedangkan ke wilayah Indonesia lainnya dimulai pada 1870.

        Indonesia merupakan pemasok utama minyak cengkih untuk pasar India dan Arab Saudi. Kekurangan kebutuhan di negara tersebut dipasok oleh Zanzibar, Madagaskar, dan Sri Lanka. Minyak cengkih Indonesia juga dipasarkan ke Vietnam, Pakistan, Bangladesh, Amerika, dan Uni Emirat Arab.  Berdasarkan ketersediaan bahan baku, teknologi, nilai jual, peluang pasar minyak cengkih dan turunannya, kesempatan kerja, dan peningkatan pendapatan masyarakat, minyak cengkih berpeluang dikembangkan di Maluku. Pengembangan tanaman cengkih dapat dilakukan melalui pendekatan sektor hulu dan hilir. Pada sektor hulu, kebijakan lebih diarahkan pada peningkatan produktivitas dan mutu produk cengkih, sedangkan pada sektor hilir lebih ditekankan pada peningkatan nilai tambah dengan mengolah daun cengkih gugur menjadi minyak daun cengkih kasar (crude clove leaf oil). Tulisan ini memberikan gambaran potensi pengembangan minyak cengkih sebagai komoditas ekspor unggulan Maluku. 
        Tanaman cengkih dengan umur 6,5- 8,5 tahun dapat menghasilkan bunga cengkih basah 3 kg/pohon/tahun dan daun cengkih gugur 26 kg/pohon/tahun atau 2,6 t/ha/tahun (populasi tanaman 100 pohon/ha). Berdasarkan hasil analisis proksimat, kandungan minyak pada bunga cengkih berkisar antara 10-20%, tangkai cengkih 5-10%, dan daun cengkih1-4%.  Minyak daun cengkeh adalah minyak atsiri yang di\peroleh dari penyulingan daun dan ranting tanaman cengkeh. Minyak daun cengkeh hasil penyulingan rakyat seringkali berwarna hitam kecoklatan dan kotor, sehingga untuk meningkatkan nilai jual dari minyak tersebut, perlu dilakukan pemurnian.                                                                                 Cengkeh (eugenia aromaticum) merupakan tanaman asli dari Maluku dan kemudian menyebar ke berbagai negara dibawah oleh saudagar Tionghoa misalnya ke daerah Malabar di India.Cengkeh mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, baik hasil primer maupun dalam bentuk pengolahan (minyak). Menurut BPS (2009), dengan luas areal tanam cengkeh 36.042 ha di Maluku memiliki potensi daun cengkeh gugur lebih kurang 257 ton/hari atau 5,1 ton minyak/hari.Ditinjau dari aspek pasar, minyak cengkeh mempunyai prospek pemasaran yang menjanjikan karena permintaan minyak cengkeh 5.000 – 6.000 ton per tahun rata-rata harga Rp. 400.000 per botol dan 70%-80% permintaannya ada di Indonesia khususnya industri kimia aromatik turunan minyak cengkeh (Mulyadi, 2013).
            Potensi areal tanam, serta nilai tambah (added value) bunga, minyak daun cengkeh gugur serta tangkainya, menunjukkan prospek peluang pasar yang menjanjikan melalui pembangunan dan pengembangan industri pengolahan produk minyak cengkeh, guna memperkuat daya saing ekonomi daerah Maluku. Khususnya di Maluku, cengkeh memiliki prospek mengembangan yang cukup baik mengingat ketersediaan bahan baku yang cukup banyak. Selain itu, prospek jenis agroindustri ini mempunyai beragam keuntungan kompetitif, termasuk di dalamnya penciptaan lapangan kerja di pedesaan serta peningkatan taraf hidup petani cengkeh. Namun masalah peningkatan produksi, peningkatan nilai tambah, fluktuasi harga, masalah biaya produk serta adanya saingan sejenis, turutmempengaruhi keberlanjutan industri minyak cengkeh
 
 

BAB III

PENUTUP 

Kesimpulan

1.   Tanaman cengkeh (Eugenia caryophyllata) dapat menghasilkan minyak cengkeh melalui proses destilasi uap dari buah ataupun daun cengkeh yang telah gugur. Komponen utama yang terdapat pada minyak cengkeh ini adalah senyawa eugenol sebanyak 80-85% serta karyofilen sebesar 10-15% .

2.      Minyak atsiri merupakan salah satu hasil sisa proses metabolisme dalam tanaman, yang terbentuk karena reaksi antara berbagai persenyawaan kimia dengan adanya air.

3.     Menggunakan minyak atsiri sebagai bioaditif pada bahan bakar minyak (BBM) untuk meningkatkan efisiensi proses pembakaran bahan bakar minyak guna mencapai penghematan pemakaian BBM (bensin dan solar).

4.  Indonesia merupakan pemasok utama minyak cengkih untuk pasar India dan Arab Saudi. Kekurangan kebutuhan di negara tersebut dipasok oleh Zanzibar, Madagaskar, dan Sri Lanka. Minyak cengkih Indonesia juga dipasarkan ke Vietnam, Pakistan, Bangladesh, Amerika, dan Uni Emirat Arab.

5.      Potensi areal tanam, serta nilai tambah (added value) bunga, minyak daun cengkeh gugur serta tangkainya, menunjukkan prospek peluang pasar yang menjanjikan melalui pembangunan dan pengembangan industri pengolahan produk minyak cengkeh, guna memperkuat daya saing ekonomi

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Alfian D G. Prahmana R A. Silitonga D J. 2020.   Uji Performa Mesin Bensin Menggunakan Bioaditif Cengkeh Dengan Bensin Berkadar Oktan 90.  Journal of Science and Applicative Technology. 4(1):49-53.

Bustaman S. 2011. Potensi Pengembangan Daun Cegkih Sebagai Komoditas Ekspor Maluku. Jurnal Litbang Pertanian. 30(4):132-139.

Hadi, S. 2012. Pengambilan Minyak Atsiri Bunga cengkeh (Clove Oil) Menggunakan Pelarut n-Heksana dan Benzena. Jurnal Bahan Alam Terbarukan. 1(2).

 

Handayani P A. Renga W D. Widayat W. 2013. Peningkatan Kerajinan Minyak Cengkeh Dengan Meningkatkan Kualitas Produk. Jurnal Rekayasa. 11(1):13-20.

 

Haryono I. Kusuma D S. Yubaidah S. Kurniawan A. 2019. Pengujian Aditif Penghemat Bahan Bakar Biodiesel Dari Turunan Minyak Atsiri Melalui Uji Ketahanan Genset 10 KW Selama 200 Jam. Seminar Nasional Inovasi dan Aplikasi Teknologi di Industri. Institut Teknologi Nasional Malang.

 

Kadorohman A. 2009. Eksplorasi Minyak Atsiri Sebagai Bioadiktif Bahan Bakar Solar. Jurnal Pengajaran MIPA. 14(2):121-141.

 Lekatompessy M. Girsang W. Timisela N R. 2019. Analisis Nilai Tambah Dan Strategi Pemasaran Minyak Cengkeh Di Pulau Ambon.  Jurnal Agribisnis Kepulauan. 7(2):106-118.

Mulyadi. 2013 Akuntasi edisi ke tiga. Penerbit Salemba Jakarta.

 

 

 

 

 



    Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                             Medan, Maret 2021     MINYAK CENGKEH SEBAGAI PENGHEMAT BAHAN BAKAR MINYA...