Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan Medan, Maret 2021
MINYAK CENGKEH SEBAGAI PENGHEMAT BAHAN BAKAR MINYAK
Dosen Penanggungjawab:
Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si.
Disusun Oleh :
Winda Ramadhani
191201081
HUT 4D
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2021
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Paper ini dengan baik dan tepat waktu. Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan yang berjudul “Minyak Cengkeh Sebagai Peghemat Bahan Bakar Minyak” ini ditulis untuk melengkapi tugas Mata Kuliah Ekonomi Sumberdaya Hutan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, terutama kepada dosen penanggungjawab Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si. sebagai pembimbing sekaligus informan yang dengan sabar telah meluangkan waktu untuk membimbing dan mengarahkan. Penulis menyadari bahwa paper Ekonomi Sumberdaya Hutan ini masih banyak kesalahan dalam penulisan. Oleh karena itu, penulis akan berusaha semaksimal mungkin untuk memperbaikinya.
Penulis juga sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Semoga paper ini bisa memberikan manfaat bagi pembacanya.
Medan, Maret 2021
Penulis
DAFTAR ISI
HalamanKATA PENGANTAR......................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang........................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah...................................................................................... 2
1.3 Tujuan........................................................................................................ 2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Minyak Cengkeh ........................................................................ 3
2.2 Potensi Minyak Cengkeh sebagai penghemat BBM ................................ 4
2.3 Nilai Ekonomis Minyak Cengkeh ............................................................ 5
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan................................................................................................ 7
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang
Kebutuhan energi di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini didukung oleh peningkatan jumlah kendaraan seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan peningkatan jumlah penduduk sehingga secara tidak langsung meningkatkan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Salah satu solusi penghematan BBM adalah dengan menggunakan bahan aditif yang ditambahkan ke dalam BBM. Hal tersebut bertujuan untuk memperkaya kandungan oksigen dalam bahan bakar. Dengan meningkatnya kandungan oksigen dalam bahan bakar maka dapat meningkatkan kinerja pembakaran atau menyempurnakan pembakaran dalam ruang bakar mesin. Hal tersebut menyebabkan tenaga yang dihasilkan menjadi lebih besar, menurunkan emisi gas buang serta volume penggunaan bahan bakar minyak lebih sedikit setiap jarak tempuh atau satuan waktu pemakaian bahan bakar minyak
I. RUMUSAN MASALAH
1. Apa itu minyak cengkeh
2. Bagaimana potensi minyak cengkeh sebagai penghemat bahan bakar
3. Bagaimana nilai ekonomis minyak cengkeh sebagai alternatif penghemat
bahan bakar minyak
II. TUJUAN PENELITIAN
1. Untuk mengetahui definisi minyak cengkeh
2. Untuk mengetahui potensi minyak cengkeh sebagai penghemat bahan
bakar minyak
3. Untuk mengetahui nilai ekonomis sebagai alternatif penghemat bakar
bakar minyak
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Apa Itu Minyak Cengkeh
Tanaman cengkeh (Eugenia caryophyllata) dapat menghasilkan minyak cengkeh melalui proses destilasi uap dari buah ataupun daun cengkeh yang telah gugur. Komponen utama yang terdapat pada minyak cengkeh ini adalah senyawa eugenol sebanyak 80-85% serta karyofilen sebesar 10-15% . Senyawa eugenol yang terdapat pada minyak cengkeh ini mempunyai rumus 5 molekul C10H1202, bobot molekul 164.20 serta titik didih 250-255°C yang dapat larut dalam alkohol, eter, kloroform serta sedikit air. Eugenol dapat berperan untuk memperkaya kandungan oksigen dalam bahan bakar. Sehingga dengan adanya penambahan atom oksigen yang terdapat di dalam bahan bakar, maka atom oksigen ini akan berperan untuk mengoksidasi jelaga dan gas karbon monoksida (CO) dalam ruang bakar sehingga proses pembakaran yang terjadi akan lebih sempurna
2.2 Potensi minyak Cengkeh Sebagai Penghemat Bahan Bakar Minyak
Peningkatkan ketahanan energi nasional dan pengurangan konsumsi energi bahan bakar minyak telah diusahakan pemerintah maupun berbagai elemen masyarakat. Baik pemerintah, pelaku bisnis/industri, organisasi masyarakat sipil, dan individu telah melakukan gerakan atau aksi bersama untuk melakukan penghematan energi. Pemerintah melalui keputusan instruksi presiden, memerintahkan untuk melakukan penghematan energi dan air, melaksanakan program konservasi energi dan gerakan pemotongan penggunaan energi 10%. Sementara itu pelaku industri dan masyarakat melakukan kajian dan mengembangkan berbagai teknologi penghematan energi. Salah satu teknologi yang telah dikembangkan adalah teknologi aditif penghemat bahan bakar yang dikembangkan dari turunan minyak atsiri.
Menggunakan minyak atsiri sebagai bioaditif pada bahan bakar minyak (BBM) untuk meningkatkan efisiensi proses pembakaran bahan bakar minyak guna mencapai penghematan pemakaian BBM (bensin dan solar). Hasil pengujian menunjukkan pada pengujian formula aditif bensin mengalami kenaikan angka oktan sebesar 0.4. Hasil pengujian aditif solar juga cukup baik. Peningkatan angka cetana pada aditif solar sebesar 2.9. Selain itu, pada pengujian lapangan (uji jalan) menunjukkan tingkat penghematan bensin maupun solar rata-rata sebesar 20 sampai 40%.
Menurut Hadi (2012) minyak cengkeh didapat dari proses penyulingan/destilasi dari bungai, tangkai atau gagang bunga dan daun cengkeh. Minyak cengkeh termasuk dalam jenis minyak atsiri, dan kandungan minyak atsiri pada minyak cengkeh mencapai 21,3%. Kandungan terbesar pada minyak cengkeh adalah eugenol yang mencapai 78-85%. Eugenol dapat bermanfaat dalam pembuatan vanilin, euginil metil eter, eugenil asetat dan lain-lain. Eugenol merupakan kandungan utama pada minyak cengkeh. Eugenol dan senyawa-senyawa lainnya mempunyai macammacammanfaat pada industri, seperti industri nabati, farmasi, kosmetik dll. Turunan senyawa eugenol yaitu eugenol asetat dapat digunakan sebagai bioaditif bahan bakar solar yang dapat meningkatkan kualitas pembakaran bahan bakar.
Minyak atsiri dapat larut atau bercampur dengan solar. Dari hasil analisis, komponen penyusun minyak atsiri mengandung atom oksigen yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas bahan bakar sehingga pembakaran bahan bakar pada mesin dapat menjadi lebih sempurna Minyak cengkeh diperoleh dengan cara destilasi uap dari buah atau daun cengkeh yang telah gugur. Buah cengkeh yang kering mengandung sekitar 18,32% minyak atsiri dengan kandungan eugenol sebesar 80,94%. Sedangkan daun cengkeh mengandung sekitar 2,97% minyak atsiri dengan kandungan eugenol sebesar 82,13%. Minyak cengkeh hasil destilasi uap berwarna coklat gelap, tetapi setelah didestilasi ulang akan diperoleh cairan berwarna kekuningan jernih dengan indeks bias pada 20°C = 1,530, massa jenis pada 30°C = 0,9994.2.3 Nilai Ekonomis Minyak Cengkeh Sebagai Alternatif Penghemat BBM
Minyak cengkih merupakan salah satu minyak atsiri yang permintaannya cukup tinggi di pasar internasional. Minyak cengkih dihasilkan dari distilasi uap (penyulingan) bunga, tangkai, dan daun cengkih. Spesifikasi minyak cengkih tidak hanya ditentukan oleh kandungan eugenolnya, tetapi juga komponen lain seperti eugenol asetat dan kariofilen. Cengkih merupakan tanaman rempah asli Maluku Utara/Kepulauan Maluku (Rukka 2010), dan telah diperdagangkan serta dibudidayakan secara turun-temurun dalam bentuk perkebunan rakyat. Penyebaran tanaman cengkih keluar Kepulauan Maluku dimulai sejak 1769, sedangkan ke wilayah Indonesia lainnya dimulai pada 1870.
Indonesia merupakan pemasok utama minyak cengkih untuk pasar India dan Arab Saudi. Kekurangan kebutuhan di negara tersebut dipasok oleh Zanzibar, Madagaskar, dan Sri Lanka. Minyak cengkih Indonesia juga dipasarkan ke Vietnam, Pakistan, Bangladesh, Amerika, dan Uni Emirat Arab. Berdasarkan ketersediaan bahan baku, teknologi, nilai jual, peluang pasar minyak cengkih dan turunannya, kesempatan kerja, dan peningkatan pendapatan masyarakat, minyak cengkih berpeluang dikembangkan di Maluku. Pengembangan tanaman cengkih dapat dilakukan melalui pendekatan sektor hulu dan hilir. Pada sektor hulu, kebijakan lebih diarahkan pada peningkatan produktivitas dan mutu produk cengkih, sedangkan pada sektor hilir lebih ditekankan pada peningkatan nilai tambah dengan mengolah daun cengkih gugur menjadi minyak daun cengkih kasar (crude clove leaf oil). Tulisan ini memberikan gambaran potensi pengembangan minyak cengkih sebagai komoditas ekspor unggulan Maluku.BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
1. Tanaman cengkeh (Eugenia caryophyllata) dapat menghasilkan minyak cengkeh melalui proses destilasi uap dari buah ataupun daun cengkeh yang telah gugur. Komponen utama yang terdapat pada minyak cengkeh ini adalah senyawa eugenol sebanyak 80-85% serta karyofilen sebesar 10-15% .
2. Minyak atsiri merupakan salah satu hasil sisa proses metabolisme dalam tanaman, yang terbentuk karena reaksi antara berbagai persenyawaan kimia dengan adanya air.
3. Menggunakan minyak atsiri sebagai bioaditif pada bahan bakar minyak (BBM) untuk meningkatkan efisiensi proses pembakaran bahan bakar minyak guna mencapai penghematan pemakaian BBM (bensin dan solar).
4. Indonesia merupakan pemasok utama minyak cengkih untuk pasar India dan Arab Saudi. Kekurangan kebutuhan di negara tersebut dipasok oleh Zanzibar, Madagaskar, dan Sri Lanka. Minyak cengkih Indonesia juga dipasarkan ke Vietnam, Pakistan, Bangladesh, Amerika, dan Uni Emirat Arab.
5. Potensi areal tanam, serta nilai tambah (added value) bunga, minyak daun cengkeh gugur serta tangkainya, menunjukkan prospek peluang pasar yang menjanjikan melalui pembangunan dan pengembangan industri pengolahan produk minyak cengkeh, guna memperkuat daya saing ekonomi
DAFTAR PUSTAKA
Alfian D G. Prahmana R A. Silitonga D J. 2020. Uji Performa Mesin Bensin Menggunakan Bioaditif Cengkeh Dengan Bensin Berkadar Oktan 90. Journal of Science and Applicative Technology. 4(1):49-53.
Bustaman S. 2011. Potensi Pengembangan Daun Cegkih Sebagai Komoditas Ekspor Maluku. Jurnal Litbang Pertanian. 30(4):132-139.
Hadi, S. 2012. Pengambilan Minyak Atsiri Bunga cengkeh (Clove Oil) Menggunakan Pelarut n-Heksana dan Benzena. Jurnal Bahan Alam Terbarukan. 1(2).
Handayani P A. Renga W D. Widayat W. 2013. Peningkatan Kerajinan Minyak Cengkeh Dengan Meningkatkan Kualitas Produk. Jurnal Rekayasa. 11(1):13-20.
Haryono I. Kusuma D S. Yubaidah S. Kurniawan A. 2019. Pengujian Aditif Penghemat Bahan Bakar Biodiesel Dari Turunan Minyak Atsiri Melalui Uji Ketahanan Genset 10 KW Selama 200 Jam. Seminar Nasional Inovasi dan Aplikasi Teknologi di Industri. Institut Teknologi Nasional Malang.
Kadorohman A. 2009. Eksplorasi Minyak Atsiri Sebagai Bioadiktif Bahan Bakar Solar. Jurnal Pengajaran MIPA. 14(2):121-141.
Lekatompessy M. Girsang W. Timisela N R. 2019. Analisis Nilai Tambah Dan Strategi Pemasaran Minyak Cengkeh Di Pulau Ambon. Jurnal Agribisnis Kepulauan. 7(2):106-118.
Mulyadi. 2013 Akuntasi edisi ke tiga. Penerbit Salemba Jakarta.

Good👍, terima kasih informasinya
BalasHapusSemoga kedepannya makin bagus
Bagus kak, sangat bermanfaat terima kasih infonya
BalasHapusMantap smoga bermanfaat ya
BalasHapusSukses selalu
Smoga bermanfaat untuk penulis dan pembaca
BalasHapusBagus👍, lanjutkan kak
BalasHapusSangat bermanfaat kak
BalasHapusSangat bermanfaat kak
BalasHapusTerima kasih,informasi ini sangat membantu,dan bermanfaat.
BalasHapusSangat bagus,semoga kedepan nya lebih bagus lagi👍
BalasHapus